Tujuan Hipotesis

tujuan

 

 

Adanya hipotesis dalam suatu penelitian memberikan beberapa keuntungan bagi peneliti. Pertama, hipotesis memberikan arah bagi penelitian yang akan dilaksanakan. Sebagaimana telah disinggung di awal, penelitian yang dimulai tanpa hipotesis tidak menyediakan titik awal bagi peneliti untuk memulai penelitiannya; tidak ada cetak biru (blueprint) urutan langkah-langkah yang harus diikuti. Perumus an-hipotesis biasanya merupakan puncak dari upaya keras peneliti mendalami berbagai literature (teori) yang muncul sebagai proses alami dalam proses penelitian. Tanpa hipotesis, penelitian tidak memiliki focus dan kejelasan.

 

Keuntungan kedua, adanya hipotesis adalah mencegah peneliti untuk melakukan penelitian coba-coba (trial-and-error research), yaitu penelitian untung-untungan dengan harapan menemukan sesuatu yang penting. Perumusan hipotesis menuntut peneliti untuk memisahkan atau mengisolasi suatu wilayah penelitian secara khusus. Penelitian yang bersifat coba-coba hanya menghabiskan waktu dan tenaga. Perumusan hipotesis akan mencegah terjadinya pemborosan waktu dan tenaga.

 

Hipotesis juga membantu peneliti untuk menghindari berbagai variable pengganggu dan variable yang membingungkan. Karena hipotesis berfungsi memusatkan perhatian peneliti pada peryataan akurat yang dapat diuji, maka variable lainnya, apakah variable itu relevan ataukah itu relevan, tidak perlu diperhatikan. Missal, peneliti yang tertarik untuk mengetahui peran media dalam memberikan informasi kepada konsumen, maka peneliti harus merumuskan hipotesis yang secara khusus menyatakan media apa yang tercakup dalam penelitiannya, produk apa yang diteliti, siapa konsumen yang dituju dan seterusnya. Dengan kata lain, hipotesis berfungsi menyempitkan topic yang ingin diteliti. Melalui proses penyempitan topic penelitian ini, maka berbagai variable yang tidak penting dan variable pengganggu lainnya dapat dihilangkan atau dikontrol. Namun hal ini tidak berarti hoptesis menghilangkan kesalahan dalam penelitian karena kesalahan (error) dalam penelitian biasanya selalu ada.

 

Terakhir, hipotesis memungkinkan peneliti untuk melakukan kuantifikasi variable. Setiap konsep dan fenomena harus dapat dikuantifikasi selama peneliti memberikan definisi operasional terhadap konsep dan fenomena itu. Seluruh istilah yang digunakan dalam hipotesis harus memiliki definisi operasional. Missal, suatu penelitian memiliki hipotesis sebagai berikut, “Terdapat perbedaan signifikan frekuensi tanyangan iklan televise antara audien dengan frekuensi menonton televise tinggi dengan audien dengan frekuensi menonton rendah.” Dalam hal ini, peneliti membutuhkan definisi operasional mengenai frekuensi tayangan, frekuensi menonton tinggi dan rendah. Kata-kata yang tidak dapat dikuantifikasi tidak dapat dijadikan hipotesis.

 

Beberapa konsep dapat memiliki lebih dari satu definisi misalnya kata ‘kekerasan’. Keluhan kebanyakan peneliti bukan terletak pada kata kekerasan yang tidak dapat dikuantifikasi, tetapi lebih pada bahwa kata tersebut dapat memiliki lebih dari satu definisi operasional. Karena itu, sebelum seseorang dapat membandingkan hasil penelitian mengenai kekerasan media, ia perlu mempertimbangkan definisi kekerasan yang digunakan dalam setiap penelitian. Hasil penelitian yang berbeda bisa jadi dikarenakan definisi yang digunakan berbeda, bukan karena ada atau tidak adanya kekerasan.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s