Teknik Pengambilan Sampling

Teknik pengambilan sampling pada dasarnya terbagi dalam dua kelompok, yaitu: teknik pengambilan sampel model probabilitas dan model non-probabilitas. Dengan cara probabilitas, setiap subyek dalam populasi harus memiliki peluang yang besarnya sudah diketahui untuk terpilih menjadi sampel. Dengan demikian peneliti dapat memperkirakan besarnya error dalam pengambilan sampel  (sampling error). Penelitian lewat pengambilan sampel cara probabilitas ternyata jauh lebih berhasil daripada mereka yang melakukan pengambilan sampel cara kuota sehingga cara probabilitas sampai sekarang menjadi cara yang dianggap paling layak untuk dilakukan oleh para peneliti (Babbie, 1979).

A. Model Probabilitas

Pengambilan sampel probabilitas adalah metode pemilihan sampel dimana setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Beberapa cara pengambilan sampel dengan metode ini antara lain:

  1. Simple Random Sampling

Ada dua cara yang sering digunakan:

Cara Undian

Member nomor pada seluruh anggota populasi kemudian dipilih secara acak sebanyak jumlah sampel yang dibutuhkan. Dengan cara ini ada dua metode yaitu: pengambilan sampel dengan pengembalian dan pengambilan sampel tanpa pengembalian.

 

Cara Sistematis atau Ordinal

Pemilihan dilakukan dengan cara acak kemudian dilanjutkan dengan menggunakan interval tertentu.

2. Stratified Sampling

Populasi yang dianggap heterogen menurut karakteristik tertentu dikelompokkan kedalam sub-populasi sehingga dalam tiap kelompok akan memiliki anggota sampel yang relative homogenya. Kemudian dari tiap sub-populasi ini secara acak diambil anggota sampelnya. Dasar penentuan strata biasanya secara geografis atau cara lainnya.

3. Cluster Sampling

Cara ini mirip dengan cara stratifikasi diatas, bedanya jika cara stratifikasi melakukan pembagian sub-populasi yang homogeny, sedangkan dengan cara cluster unsur-unsurnya menjadi heterogen. Selanjutnya dari kluster diplih sampel secara random. Cluster Sampling digunakan apabila diwilayah tertentu respondennya heterogen, dan tidak dapat dilakukan homogenitas.

4. Area Sampling

Pada prinsipnya cara ini menggunakan perwakilan bertingkat. Populasi dibagi atas beberapa bagian populasi, kemudian dari sub-populasi dibagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Dari bagian populasi yang paling kecil diambil sampel sebagai wakil untuk masuk pada bagian populasi yang lebih besar. Kemudian dari populasi yang lebih besar ini akan diambil lagi sampel yang akan dipakai lagi dan seterusnya.

5. Double Sampling

Double sampling atau sequential sampling disebut juga multiphase sampling, merupakan metode sampling dengan cara mengumpulkan sampel berdasarkan sampel yang ada. Sampel awal yang telah diperoleh digali informasinya, setelah informasi diperoleh digunakan untuk mengambil sampel berikutnya. Sebagai suatu contoh, misalnya data responden dapat dikumpulkan dari mail survey, setelah informasi dapat digali selanjutnya secara random dipilih lagi beberapa untuk diinterview lebih detail sesuai dengan criteria yang telah ditentukan.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Analisis Data Kuantitatif di Malang dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s