ANALISIS CLUSTER

analisis-kluster

 

Analisis cluster bertujuan untuk mengelompokkan unit-unit pengamatan ke dalam beberapa kelompok (cluster) berdasarkan kedekatan hubungan antarvariabel dimana setiap unit pengamatan dalam satu kelompok akan mempunyai karakteristik (ciri) yang relatif sama (homogen) sedangkan antar kelompok (cluster) unit pengamatan memiliki karakteristik (ciri) yang berbeda (heterogen).

Analisis Cluster dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu metode berhirarki (Hierarchical Clustering Method) dan metode tidak berhirarki (Non Hierarchical Clustering Method). Metode berhirarki sering digunakan apabila jumlah kelompok yang dibentuk belum diketahui, sedangkan metode tidak berhirarki dipakai bila banyaknya kelompok yang akan dibentuk telah ditentukan.

 

Analisis Cluster Non Hierarki

Tipe dasar dalam metode non hierarki adalah algoritma K-mean, yaitu digunakan untuk mengelompokkan objek atau data sedemikian rupa sehingga jarak tiap objek ke pusat cluster adalah minimum, titik pusat cluster (centroid) terbentuk dari rata-rata nilai dari setiap variabel. Proses cluster non hierarti adalah dipilih secara acak k data sebagai sentroid, kemudian jarak antara data dengan centroid dihitung menggunakan jarak Euclid, dan akan ditempatkan dalam kelompok yang terdekat dihitung dati titik tengahnya.

A. Langkah-langkah analisis Cluster K-means :

  1. Menentukan k sebagai banyaknya kelompok yang akan dibentuk
  2. Membangkitkan k centroid awal secara acak.
  3. Menghitung jarak setiap data ke masing-masing centroid yang paling dekat
  4. Melakukan iterasi dan menentukan posisi centroid baru dengan cara menghitung rata-rata dari data yang berada pada centroid yang sama
  5. Ulangi langkah 3 jika posisi centroid baru dan centroid lama tidak sama.

 

B. Menentukan Banyaknya Kelompok

Untuk menentukan banyaknya kelompok maka dapat dilakukan dengan pendekatan berikut :

  1. Pertimbangan teoritis, konseptual, praktis yang mungkin diusulkan untuk menentukan berapa banyak jumlah cluster
  2. Besarnya kelompok relative seharusnya bermanfaat, pemecahan kelompok yang menghasilkan 1 objek anggota dinyatakan tidak bermanfaat sehingga hal ini perlu dihindari.

 

Analisis Cluster Hierarki

Tipe dasar dalam metode ini adalah aglomerasi dan pemecahan. Dalam metode aglomerasi tiap observasi pada mulanya dianggap sebagai cluster tersendiri sehingga terdapat cluster sebyak jumlah observasi. Kemudian dua cluster yang terdekat kesamaannya digabung menjadi suatu cluster baru, sehingga jumlah cluster berkurang satu pada tiap tahap. Sebaliknya pada metode pemecahan dimulai dari satu cluster besar yang mengandung seluruh observasi, selanjutnya observasi-observasi yang paling tidak sama dipisah dan dibentuk cluster-cluster yang lebih kecil. Proses ini dilakukan hingga tiap observasi menjadi cluster sendiri-sendiri.

Sebelum melakukan pengelompokan terlebih dahulu ditentukan jarak kedekatan (similarity) antar individu menggunakan jarak Euclidean. Jarak ini cukup fleksibel untuk dilakukan modifikasi dalam mengatasi kelemahan data. Misalnya kelemahan karena unit pengukuran dan atau skala pengukuran yang berbeda bisa diperbaiki dengan melakukan transformasi baku (Z). Ukuran jarak Euclidean untuk dua buah unit X dan Y adalah:

d(X,Y) = ((X – Y)’ I (X – Y))1/2

dimana I adalah matrik identitas berukuran p x p.

Pada analisis cluster hierarki terdapat beberapa beberapa metode matrik jarak antara lain:

  1. Pautan Tunggal (Single Linkage)

Metode ini didasarkan pada jarak minimum. Dimulai dengan dua objek yang dipisahkan dengan jarak paling pendek  maka keduanya akan ditempatkan pada cluster pertama, dan seterusnya. Metode ini dikenal pula dengan nama pendekatan tetangga terdekat.

2. Pautan Lengkap (Complete Linkage)

Disebut juga pendekatan tetangga terjauh. Dasarnya adalah jarak maksimum. Dalam metode ini seluruh objek dalam suatu cluster dikaitkan satu sama lain pada suatu jarak maksimuma atau dengan kesamaan minimum.

3. Pautan Rata-rata (Average Linkage)

Dasarnya adalah jarak rata-rata antar observasi. pengelompokan dimulai dari tengah atau pasangan observasi dengan jarak paling mendekati jarak rata-rata.

4. Metode Ward (Ward’s Method)

Dalam metode ini  jarak antara dua cluster adalah jumlah kuadrat antara dua cluster untuk seluruh variabel. Metode ini cenderung digunakan untuk mengkombinasi cluster-cluster dengan jumlah kecil.

5. Metode Centroid

Jarak antara dua cluster adalah jarak antar centroid cluster tersebut. Centroid cluster adalah nilai tengah observasi pada variabel dalam suatu set variabel cluster. Keuntungannya adalah outlier hanya sedikit berpengaruh jika dibandingkan dengan metode lain.

Iklan
Dipublikasi di Analisis Data Kuantitatif di Malang, Analisis Data Statistik, jasa olah data banyuwangi, jasa olah data malang, Konsultasi Statistik Penelitian, Olah Data SPSS Malang, Pelatihan SPSS Malang, Pelatihan Statistik Terapan, Pusat Analisis Data Statistik Malang, Survey dan Riset, Training Statistika di Malang | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Skripsi itu Mudah…!!!

 Pola pikir ini yang setiap saat harus ditanamkan, karena jika berpikir skripsi itu mudah, maka anda akan menganggapnya memang mudah. Ada beberapa catatan untuk meyakinkan bahwa skripsi itu mudah.

Pertama, skripsi itu pada dasarnya latihan meneliti,latihan menulis, dan latihan mengutip dengan baik dan jujur. Karena sifatnya ‘ hanya ‘ latihan, maka jangan dibuat susah karena memang tidak ada yang susah.
Kedua, skripsi itu akan menjadi seolah-olah susah jika Anda menganggapnya susah. Untuk mahasiswa, jangan terlalu percaya pada cerita kakak kelas tentang Dosen Pembimbing. Bahwa Dosen Pembimbingya itu (a) sangat hobi mempersulit mahasiswa, (b) susah ditemui, (c) sok super sibuk, dan (d) galaknya minta ampun. Singkatnya, dialah sosok ‘ dosen killer’ yang sesungguhnya. Ingatlah bahwa cerita senior itu didasarkan pada pengalaman pribadinya dengan sang Dosen. Dan pengalaman ini sifatnya sangat subjektif, tergnatung bagaimana kemampuan dia dalam berkomunikasi dengan dosen pembimbing dan kapasitas keilmuannya dalam bidang yang diteliti.
Ketiga, skripsi itu juga akan mudah jika Anda tidak mempersulit diri. Perlu ada strategi dalam memilih topik dan objek penelitian. Ketergantungan yang terlalu tinggi terhadap salah satu objek penelitian membuat Anda tidak bisa melakukan apa pun, sementara waktu terus berjalan. Selain itu, mempertahankan mood skripsi adalah penting, Jangan menganggap bahwa skripsi sudah selesai jika belum benar-benar telah selesai.
Dipublikasi di Analisis Data Kuantitatif di Malang, jasa olah data banyuwangi, Olah Data SPSS Malang, Pusat Analisis Data Statistik Malang, Training Statistika di Malang | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Content Validity (Validitas Isi)

Abstract

Validitas isi mencerminkan representasi dan relevansi dari sekumpulan aitem yang digunakan untuk mengukur sebuah konsep yang dilakukan melalui analisis rasional mengenai isi tes melalui penilaian panel ahli. Validitas ini mengacu pada ketepatan pengukuran didasarkan pada isi (content) instrument untuk memastikan bahwa item skala yang digunakan sudah memenuhi keseluruhan isi konsep atau kesesuaian item. Artikel ini secara khusus hanya membahas mengenai validitas isi (content validity) beserta bebeberapa contoh uji dalam kegiatan penelitian.

Keywords: content validity

Introduction

Validitas dalam riset social merupakan masalah yang sangat penting karena menyangkut ketepatan alat ukur yang digunakan. Hal ini dapat dimaknakan bahwa instrument yang tidak tepat/tidak sesuai maka akan berimplikasi pada validitas hasil riset itu sendiri. Dalam praktiknya, para ahli-ahli psikometrika telah mengembangkan berbagai cara, teknik maupun metode untuk meningkatkan validitas instrumen ini, dan salah satunya adalah melalui validitas isi sebagai langkah awal untuk menilaian kesesuaian item skala yang digunakan.

Validitas adalah sejauh alat ukur (tes) benar-benar menggambarkan apa yang hendak diukur. Menetapkan validitas sebuah test atau instrument test sangat sulit, terutama karena variabel-variabel psikologi biasanya adalah konsep-konsep abstrak, seperti inteligensi, kecemasan, dan kepribadian. Konsep-konsep ini tidak memiliki realitas konkret sehingga eksistensinya harus diinferensi melalui sarana yang tidak langsung. Ada tiga jenis validitas yaitu content validity (validitas isi), criterion validity (validitas criteria), dan construct validity (validitas konsep). Dua teknik yang digunakan dalam analisis ini adalah melalui koefisien validitas isi Aiken’s V dan Rasio validitas isi – Lawshe’s CVR.

Dipublikasi di Analisis Data Kuantitatif di Malang, jasa olah data banyuwangi, jasa olah data malang, Olah Data Malang, Olah Data SPSS Malang, Pusat Analisis Data Statistik Malang, Training Statistika di Malang | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

PENGERTIAN DASAR STATISTIKA

A. PENGERTIAN STATISTIK

Sudjana (2004, dalam Riduwan dan Sunarto, 2007) mendefinisikan statistika sebagai pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan fakta, pengolahan serta pembuatan keputusan yang cukup beralasan berdasarkan fakta dan analisa yang dilakukan. Sementara statistic dipakai untuk menyatakan kumpulan fakta, umumnya berbentuk angka yang disusun dalam tabel atau diagram yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan.

Lebih lanjut Sudjana (2004, dalam Riduwan dan Sunarto, 2007) menyatakan statistika adalah ilmu terdiri dari teori dan metode yang merupakan cabang dari matematika terapan dan membicarakan tentang : bagaimana mengumpulkan data, bagaimana meringkas data, mengolah dan menyajikan data, bagaimana menarik kesimpulan dari hasil analisis, bagaimana menentukan keputusan dalam batas-batas resiko tertentu berdasarkan strategi yang ada.

Singgih Santoso (2002) menyatakan, pada prinsipnya statistic diartikan sebagai kegiatan untuk mengumpulkan data, meringkas/menyajikan data, menganalisa data dengan metode tertentu, dan menginterpretasikan hasil analisis tersebut.

Dalam kaitannya untuk menyelesaikan masalah, pendekatan statistic terbagi dua yaitu pendekatan statistic dalam arti sempit dan luas. Dalam arti sempit (statistic deskriptif), statistika yang hanya mendeskripsikan tentang data yang dijadikan dalam bentuk tabel, diagram, pengukuran rata-rata, simpangan baku, dan seterusnya tanpa perlu menggunakan signifikansi atau tidak bermaksud membuat generalisasi.

Sementara dalam arti luas (statistic inferensi/induktif) adalah alat pengumpul data, pengolah data, menarik kesimpulan, membuat tindakan berdasarkan analisis data yang dikumpulkan dan hasilnya dimanfaatkan / digeneralisasi untuk populasi.

Bidang keilmuan statistika adalah sekumpulan metode untuk memperoleh dan menganalisa data dalam pengambilan suatu kesimpulan. Meski merupakan cabang ilmu matematika, statistika memiliki perbedaan mendasar pada logikanya. Jika matematika menggunakan logika deduktif, sementara statistic menggunakan logika induktif.

Logika statistika, dengan demikian sering disebut dengan logika induktif yang tidak memberikan kepastian namun member tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik kesimpulan, dan kesimpulannya mungkin benar mungkin juga tidak. Langkah yang ditempuh dalam logika statistika adalah :

  1. Observasi dan eksperimen
  2. Munculnya hipotesis ilmiah
  3. Verifikasi dan pengukuhan dan berakhir pada
  4. Sebuah teori dan hokum ilmiah (Cecep Sumarna, 2004:98)

B. LANDASAN KERJA STATISTIK

Menurut Sutrisno Hadi (dalam Riduwan dan Sunarto, 2007) ada tiga jenis landasan kerja statistic meliputi :

  1. Variasi. Didasarkan atas kenyataan bahwa seorang peneliti atau penyelidik selalu menghadapi persoalan dan gejala yang bermacam-macam (variasi) baik dalam bentuk tingkatan dan jenisnya
  2. Reduksi, Hanya sebagian dan seluruh kejadian yang berhak diteliti (sampling)
  3. Generalisasi. Sekalipun penelitian dilakukan terhadap sebagain atau seluruh kejadian yang hendak diteliti, namun kesimpulan dan penelitian ini akan diperuntukkan bagi keseluruhan kejadian atau gejala yang diambil.

C. KARAKTERISTIK STATISTIK

Riduwan dan Sunarto (2007:5-6) menjelaskan beberapa karakteristik pokok statistic meliputi :

1. Statistik bekerja dengan angka

Pertama, angka statistic sebagai jumlah atau frekuensi dan angka statistic sebagai nilai atau harga. Pengertian ini mengandung arti bahwa data statistic adalah data kuantitatif. Misalnya, jumlah kecelakaan yang terjadi dalam satu tahun, jumlah tersangka koruptor yang diproses di KPK tahun 2009, jumlah siswa SD Jakarta tahun 2009, Jumlah siswa yang lulus UAN 2010, dan seterusnya. Angka-angka ini menyatakan nilai atau harga sesuatu

Kedua, Angka statistic sebagai nilai mempunyai arti data kualitatif yang diwujudkan dalam angka. Contoh : nilai IQ, mutu pengajaran guru, metode pengajaran, nilai kepuasan, dan seterusnya,

2. Statistik bersifat Objektf

Statistik bekerja dengan angka sehingga mempunyai sifat objektif, artinya angka statistic dapat digunakan sebagai alat pencari fakta, pengungkapan kenyataan yang ada dan memberikan keterangan yang benar, kemudian menentukan kebijakan sesuai fakta dan temuannya yang diungkapkan apa adanya.

3. Statistik bersifat Universal

Statistik tidak hanya digunakan dalam salah satu disiplin ilmu saja, tetapi dapat digunakan secara umum dalam berbagai bentuk disiplin ilmu pengetahuan dengan penuh keyakinan.

D. MANFAAT DAN KEGUNAAN STATISTIK

Statistik dapat digunakan sebagai alat (Riduwan dan Sunarto, 2007)  :

1. Komunikasi. Adalah sebagai penghubungan beberapa pihak yang menghasilkan data statistic atau berupa analisis statistic sehingga beberapa pihak tersebut akan dapat mengambil keputusan melalui informasi tersebut.

2. Deskripsi. Merupakan penyajian data dan mengilustrasikan data, misalnya mengukur tingkat kelulusan siswa, laporan keuangan, tingkat inflasi, jumlah penduduk, dan seterusnya

3. Regresi. Adalah meramalkan pengaruh data yang satu dengan data yang lainnya dan untuk menghadapi gejala-gejala yang akan datang

4. Korelasi. Untuk mencari kuatnya atau besarnya hubungan data dalam suatu peneltian

5. Komparasi yaitu membandingkan data dua kelompok atau lebih.

Dirangkum dari :

Cecep Sumarna. 2004. Filsafat Ilmu. Dari hakikat menuju nilai. Bandung : Pustaka Bani Quraisy

Riduwan dan Sunarto. 2007. Pengantar Statistika. Bandung : Alvabeta

Singgih Santoso. 2002. Statistik Parametrik. Jakarta : Elexmedia Komputindo

Dipublikasi di jasa olah data banyuwangi, jasa olah data malang | 2 Komentar

SEM : Identifikasi Model

Identifikasi Model berhubungan dengan pertanyaan “apakah model yang diusulkan mampu menghasilkan parameter yang unik”. Unik disini diartikan parameter yang ada dalam model dapat diestimasi dengan data sampel, hasil estimasi dapat diuji dengan berbagai statistik uji yang ada, serta hasil estimasi dapat dibandingkan dengan model lain (Kusnendi, 2008).

Secara garis besar, ada tiga kategori identifikasi dalam persamaan simultan meliputi under identified, just identified, dan over indetified.

Under Identified adalah model dengan jumlah parameter yang diestimasi lebih besar dari jumlah data yang diketahui (data tersebut merupakan variance dan covariance dari variabel-variabel teramati). Under identified model pada SEM terjadi ketika degree of freedom (df) < 0.

Just identified adalah model dengan jumlah parameter yang sama dengan data diketahui. (df = 0)

Over identified adalah model dengan jumlah parameter yang diestimasi lebih kecil dari jumlah data yang diketahui (df > 0).

Bahasan Lengkap di buku :

Kusnendi. 2008. Model-Model Persamaan Struktural. Satu dan Multigroup Sample dengan Lisrel. Bandung : Alfabeta

Setyo Hari Wijanto. 2008. Structural Equation Modeling dengan LISREL 8.8. Yogyakarta : Graha Ilmu

Dipublikasi di Analisis Data Kuantitatif di Malang, jasa olah data banyuwangi, jasa olah data malang, Olah Data Malang, Olah Data SPSS Malang, Pusat Analisis Data Statistik Malang, Training Statistika di Malang | Tag , , , , , , | 1 Komentar

Tahapan Dalam SEM

Prosedur SEM secara umum mengandung tahap-tahap sebagai berikut (Bollen dan Long, 1993, dalam Wijanto, 2008:

  1. Spesifikasi Model : tahapan ini terkait dengan pembentukan model awal persamaan struktural, sebelum dilakukannya estimasi. Model awal diformulasikan berdasarkan suatu teori atau penelitian-penelitian sebelumnya.
  2. Identifikasi : berkaitan dengan pengkajian tentang kemungkinan diperolehnya nilai yang unik untuk setiap parameter yang adalam model dan kemungkinan persamaan simultan tidak ada solusinya.
  3. Estimasi : berkaitan dengan estimasi terhadap model untuk menghasilkan nilai-nilai parameter dengan menggunakan salah satu metode estimasi yang tersedia. Pemilihan model estimasi sering kali ditentukan berdasarkan karakteristik dari variabel-variabel yang dianalisis.
  4. Uji Kecocokan : merupakan pengujian kecocokan antara model dengan data. beberapa kriteria kecocokan atau goodness of fit (GOF) dapat dilihat disini
  5. Respesifikasi terkait dengan respesifikasi model berdasarkan hasil kecocokan model tahap sebelumnya.
Dipublikasi di Analisis Data Kuantitatif di Malang, jasa olah data banyuwangi, jasa olah data malang, Olah Data Malang, Olah Data SPSS Malang, Pusat Analisis Data Statistik Malang, Training Statistika di Malang | Tag , , , , , , | 1 Komentar

VARIABEL INTERVENING (Intervening Variable)

A. Definisi :

A variable which is postulated to be a predictor of one or more dependent variables, and simultaneously predicted by one or more independent variables. Synonym : mediating variable. (1)

A variable (as memory) whose effect occurs between the treatment in a psychological experiment (as the presentation of a stimulus) and the outcome (as a response), is difficult to anticipate or is unanticipated, and may confuse the results (2)

Menurut Tuckman (dalam Sugiyono, 2007) variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela / antara variabel independen dengan variabel dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.

“A mediating variable is one which specifies how (or the mechanism by which) a given effect occurs between an independent variable (IV) and a dependent variable (DV).” (Holmbeck, 1997, p. 599).

Dari definisi ini, intervening (mediator) dikatakan memberikan pengaruh di antara IV dan DV. Dapat merubah hasil, persamaannya adalah mediator variabel / variabel perantara, sulit untukj diantisipasi, dll. Dimananakah posisinya ?? yaitu di tengah.

Perhatikan penjelasan berikut (cth variabel diambil dari buku Prof. Sugiyono, 2007) :

Penghasilan (IV)   —>        gaya hidup (M)         —>      harapan hidup (Y)

Dari gambar anak panah dapat diketahui bahwa :

  1. Penghasilan mempengaruhi gaya hidup.
  2. Gaya hidup mempengaruhi harapan hidup
  3. Karena adanya variabel gaya hidup ini maka hubungan yang terjadi antara penghasilan (X) ke harapan hidup (M) menjadi hubungan yang tidak langsung karena diperantarai gaya hidup (Y)

Penjelasan model ini dapat didownload pada artikel Paul Jose tentang Model Mediasi

B. PERBEDAAN VARIABEL MEDIATOR DENGAN MODERATOR

Ditinjau dari definisinya, variabel mediasi (intervening) dan moderator sama-sama mempengaruhi hubungan independen terhadap dependen, lalu dimana perbedaannya ??

Untuk menjelaskan hal ini saya kembali mengambil contoh dalam buku Prof. Sugiyono (2007:40-41) mengenai variabel dan paradigma hubungan.

Perhatikan dua model di atas ..ada dua perbedaan mendasar yaitu :

  1. Variabel mediator berada dalam satu jalur hubungan, moderator di luar
  2. Variabel mediator dipengaruhi IV dan mempengaruhi DV, moderator lebih banyak tidak
  3. dan…ciri khas variabel mediator (terutama dalam penelitian sosial/keperilakuan) adalah mudah berubah, misal  mood, emosi, rasa puas, benci, sedih, dll. Sedangkan moderator lebih susah berubah seperti kepribadian, usia, masa kerja, budaya, dll.

Paul Jose (2008) menjelaskan perbedaan dan kesamaan mediator dan moderator sebagai berikut :

Similarities:
  1. They both involve three variables;
  2. You can use regression to compute both;
  3. You wish to see how a third variable affects a basic relationship (IV to DV).
Differences:
  1. You create a product term in moderation; not in mediation;
  2. You don’t have to centre anything in mediation;
  3. Moderation can be used on concurrent or longitudinal data, but mediation is best used on longitudinal data.
  4. Graphing is critical for moderation; helpful for mediation.

Apa yang bisa disimpulkan dari model di atas :

  1. Pertama, stressor (penyebab stres) berakibat terhadap stres yang dirasakan. Stessor ditempatkan sebagai penyebab (independen), dan stres yang dirasakan ditempatkan sebagai mediator (M).
  2. Kedua, pada hubungan antara stressor dan stress yang dirasakan ini akan sangat dipengaruhi oleh salah satunya tipe kepribadian (misal tipe A). Mengapa demikian ??

Dalam kaitannya dengan pengalaman stres tersebut, beberapa ahli menyatakan bahwa kepribadian tipe A lebih mudah terkena stres. Hal ini dikarenakan pola perilaku tipe A cenderung lebih agresif dan ambisius (Johns, 1996). Sikap permusuhan individu tipe A juga lebih mudah muncul, dan mereka merasakan sangat pentingnya waktu. Pada umumnya, kepribadian tipe A ini tipe orang yang tidak sabar, sangat kompetitif, serta pikiran mereka dipenuhi oleh masalah-masalah pekerjaan (Gibson, 1996:356).

Dengan demikian, meski sumber stressnya sama..stres yang dirasakan oleh setiap orang akan berbeda tergantung kepada tipe kepribadian yang dimilikinya.

Lalu, stres yang dirasakan ini akan mempengaruhi perilaku pegawai (yang dalam hal ini dikonsepkan sebagai kinerja). Hubungan ini kembali dinaik turunkan oleh variabel moderator tipe kepribadian. Tipe kepribadian A yang dicirikan pribadi yang terburu-buru, berorientasi pada angka, meski dipercaya lebih mudah terserang stress namun bukti empiris membuktikan mereka memiliki kinerja lebih tinggi dibanding tipe kepribadian B.

C. KESIMPULAN AKHIR

Ada lima hal yang menurut Paul Jose membingungkan dalam menjelaskan variabel mediator dan moderator, yaitu :

  1. Moderation and mediation sound alike. It makes it seem that they are very similar, and or they derive from the same origin. They are somewhat similar (cousins), but they don’t come from the same place.
  2. Second, statistics textbooks typically do not do a very good job of explaining these two approaches. Exception: Howell (2006).
  3. Third, reports of moderation and mediation in the research literature are not always clear oraccurately performed.
  4. Both are special cases of two separate broad statistical approaches: mediation is a special case of semi-partial correlations (path modeling) and moderation is a special case of statistical interactions (from ANOVA). Both are included under GLM, but this is not usually appreciated.
  5. It’s not entirely clear what distinguishes a moderating variable from a mediating variable. Can one a priori define mediating and moderating variables?

Memang membingungkan dan masih terus berkembang…

Referensi :

(1) http://www.microsiris.com/

(2) http://dictionary.reference.com/

Gibson, dkk. 1996. Organisasi Perilaku, Struktur dan Proses. Jakarta : Binarupa Aksara.

Kreitner dan Kinicki. 2005. Perilaku Organisasi. Jakarta : Salemba empat

Paul Jose. 2008. Workshop on Statistical Mediation and Moderation : Statistical Mediation. Victoria University of Wellington, 27 March, 2008. SASP Conference

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta

Lihat juga :

http://davidakenny.net/cm/mediate.htm

http://davidakenny.net/cm/moderation.htm

Dipublikasi di Analisis Data Kuantitatif di Malang, jasa olah data banyuwangi, jasa olah data malang, Olah Data Malang, Olah Data SPSS Malang, Pusat Analisis Data Statistik Malang, Training Statistika di Malang | Tag , , , , , , | 1 Komentar

PENGERTIAN DASAR STATISTIKA

A. PENGERTIAN STATISTIK

Sudjana (2004, dalam Riduwan dan Sunarto, 2007) mendefinisikan statistika sebagai pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan fakta, pengolahan serta pembuatan keputusan yang cukup beralasan berdasarkan fakta dan analisa yang dilakukan. Sementara statistic dipakai untuk menyatakan kumpulan fakta, umumnya berbentuk angka yang disusun dalam tabel atau diagram yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan.

Lebih lanjut Sudjana (2004, dalam Riduwan dan Sunarto, 2007) menyatakan statistika adalah ilmu terdiri dari teori dan metode yang merupakan cabang dari matematika terapan dan membicarakan tentang : bagaimana mengumpulkan data, bagaimana meringkas data, mengolah dan menyajikan data, bagaimana menarik kesimpulan dari hasil analisis, bagaimana menentukan keputusan dalam batas-batas resiko tertentu berdasarkan strategi yang ada.

Singgih Santoso (2002) menyatakan, pada prinsipnya statistic diartikan sebagai kegiatan untuk mengumpulkan data, meringkas/menyajikan data, menganalisa data dengan metode tertentu, dan menginterpretasikan hasil analisis tersebut.

Dalam kaitannya untuk menyelesaikan masalah, pendekatan statistic terbagi dua yaitu pendekatan statistic dalam arti sempit dan luas. Dalam arti sempit (statistic deskriptif), statistika yang hanya mendeskripsikan tentang data yang dijadikan dalam bentuk tabel, diagram, pengukuran rata-rata, simpangan baku, dan seterusnya tanpa perlu menggunakan signifikansi atau tidak bermaksud membuat generalisasi.

Sementara dalam arti luas (statistic inferensi/induktif) adalah alat pengumpul data, pengolah data, menarik kesimpulan, membuat tindakan berdasarkan analisis data yang dikumpulkan dan hasilnya dimanfaatkan / digeneralisasi untuk populasi.

Bidang keilmuan statistika adalah sekumpulan metode untuk memperoleh dan menganalisa data dalam pengambilan suatu kesimpulan. Meski merupakan cabang ilmu matematika, statistika memiliki perbedaan mendasar pada logikanya. Jika matematika menggunakan logika deduktif, sementara statistic menggunakan logika induktif.

Logika statistika, dengan demikian sering disebut dengan logika induktif yang tidak memberikan kepastian namun member tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik kesimpulan, dan kesimpulannya mungkin benar mungkin juga tidak. Langkah yang ditempuh dalam logika statistika adalah :

  1. Observasi dan eksperimen
  2. Munculnya hipotesis ilmiah
  3. Verifikasi dan pengukuhan dan berakhir pada
  4. Sebuah teori dan hokum ilmiah (Cecep Sumarna, 2004:98)

B. LANDASAN KERJA STATISTIK

Menurut Sutrisno Hadi (dalam Riduwan dan Sunarto, 2007) ada tiga jenis landasan kerja statistic meliputi :

  1. Variasi. Didasarkan atas kenyataan bahwa seorang peneliti atau penyelidik selalu menghadapi persoalan dan gejala yang bermacam-macam (variasi) baik dalam bentuk tingkatan dan jenisnya
  2. Reduksi, Hanya sebagian dan seluruh kejadian yang berhak diteliti (sampling)
  3. Generalisasi. Sekalipun penelitian dilakukan terhadap sebagain atau seluruh kejadian yang hendak diteliti, namun kesimpulan dan penelitian ini akan diperuntukkan bagi keseluruhan kejadian atau gejala yang diambil.

C. KARAKTERISTIK STATISTIK

Riduwan dan Sunarto (2007:5-6) menjelaskan beberapa karakteristik pokok statistic meliputi :

1. Statistik bekerja dengan angka

Pertama, angka statistic sebagai jumlah atau frekuensi dan angka statistic sebagai nilai atau harga. Pengertian ini mengandung arti bahwa data statistic adalah data kuantitatif. Misalnya, jumlah kecelakaan yang terjadi dalam satu tahun, jumlah tersangka koruptor yang diproses di KPK tahun 2009, jumlah siswa SD Jakarta tahun 2009, Jumlah siswa yang lulus UAN 2010, dan seterusnya. Angka-angka ini menyatakan nilai atau harga sesuatu

Kedua, Angka statistic sebagai nilai mempunyai arti data kualitatif yang diwujudkan dalam angka. Contoh : nilai IQ, mutu pengajaran guru, metode pengajaran, nilai kepuasan, dan seterusnya,

2. Statistik bersifat Objektf

Statistik bekerja dengan angka sehingga mempunyai sifat objektif, artinya angka statistic dapat digunakan sebagai alat pencari fakta, pengungkapan kenyataan yang ada dan memberikan keterangan yang benar, kemudian menentukan kebijakan sesuai fakta dan temuannya yang diungkapkan apa adanya.

3. Statistik bersifat Universal

Statistik tidak hanya digunakan dalam salah satu disiplin ilmu saja, tetapi dapat digunakan secara umum dalam berbagai bentuk disiplin ilmu pengetahuan dengan penuh keyakinan.

D. MANFAAT DAN KEGUNAAN STATISTIK

Statistik dapat digunakan sebagai alat (Riduwan dan Sunarto, 2007)  :

1. Komunikasi. Adalah sebagai penghubungan beberapa pihak yang menghasilkan data statistic atau berupa analisis statistic sehingga beberapa pihak tersebut akan dapat mengambil keputusan melalui informasi tersebut.

2. Deskripsi. Merupakan penyajian data dan mengilustrasikan data, misalnya mengukur tingkat kelulusan siswa, laporan keuangan, tingkat inflasi, jumlah penduduk, dan seterusnya

3. Regresi. Adalah meramalkan pengaruh data yang satu dengan data yang lainnya dan untuk menghadapi gejala-gejala yang akan datang

4. Korelasi. Untuk mencari kuatnya atau besarnya hubungan data dalam suatu peneltian

5. Komparasi yaitu membandingkan data dua kelompok atau lebih.

Dirangkum dari :

Cecep Sumarna. 2004. Filsafat Ilmu. Dari hakikat menuju nilai. Bandung : Pustaka Bani Quraisy

Riduwan dan Sunarto. 2007. Pengantar Statistika. Bandung : Alvabeta

Singgih Santoso. 2002. Statistik Parametrik. Jakarta : Elexmedia Komputindo

Dipublikasi di Analisis Data Kuantitatif di Malang, jasa olah data banyuwangi, jasa olah data malang, Olah Data Malang, Olah Data SPSS Malang, Pusat Analisis Data Statistik Malang, Training Statistika di Malang | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

UJI NORMALITAS

Normalitas dalam analisis regresi merupakan syarat utama. Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel penggangu atau residual memiliki distribusi normal.  Jika asumsi ini dilanggar, maka hasil estimasi analisis regresi menjadi bias atau tidak akurat terutama untuk sampel kecil. Uji normalitas dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu melalui pendekatan deskriptif melalui grafik (histogram dan P-P Plot) atau pendekatan inferensia (pengujian) uji kolmogorov-smirnov, Anderson Darling, Liliefors, Jarque Bera, Shapiro-Wilk, dll.Bagaimana mengatasi masalah normalitas ?Ada tiga pilihan yang dapat dilakukan jika diketahui bahwa data tidak normal; yaitu :1.       Menambah jumlah sampel2.       Melakukan transformasi data menjadi bentuk Log / Ln atau bentuk lainnya3.       Menghilangkan data yang dianggap menjadi penyebab tidak normal (data pencilan atau outlier)

Sumber: UJI NORMALITAS

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Pengertian Statistik dan Probabilitas

Mata kuliah statistika bagi mahasiswa sangat diperlukan terutama ketika seorang mahasiswa harus mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menginterprestasikan data untuk pembuatan skripsi, thesis at…

Sumber: Pengertian Statistik dan Probabilitas

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Karakteristik Penelitian Ilmiah

The important part

 

Suatu penelitian diartikan ilmiah menurut Sekaran (2003) memiliki karakteristik seperti berikut ini.

  • Mempunyai tujuan yang jelas (purposiveness).
  • Kokoh (rigor), proses penelitian dilakukan dengan hati-hati (prudent) dengan tingkat keakurasian yang tinggi.
  • Dapat diuji (testability) dengan pengujian statistic.
  • Dapat ditiru (replicability) artinya penelitian ilmiah yang dapat diulang dengan menggunakan data yang lain.
  • Ketelitian dan keyakinan (precision and confidence), menunjukkan bahwa ketelitian dan keyakinan tergantung pada hasil peneltian yang diterima umum.
  • Obyektivitas (obyectivity), menunjukan bahwa penelitian ilmiah memeberikan hasil dan kesimpulan obyektif tidak dipengaruhi oleh factor subyektif peneliti.
  • Dapat digeneralisasi (generalizability), bahwa penelitian ilmiah mampu untuk diuji ulang dengan hasil yang konsisten dengan waktu, obyek, dan situasi yang berbeda.
  • Hemat atau sederhana (parsimony), bahwa penelitian mempunyai kemudahan di dalam menjelaskan hasilnya.

Di samping itu, tentunya ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan yaitu:

  • Sistematik, artinya langkah-langkah yang ditempuh sejak dari persiapan, pelaksanaan, sampai pada peneyelesaian laporan penelitian harus terencana secara baik dan mengkiuti metodologi yang benar. Kualitas suatu penelitian banyak ditentukan oleh metodologi yang digunakan.
  • Terkendali, artinya peneliti harus dapat menentukan fenomena yang diamati dan memisahkan fenomena lain yang sifatnya mengganggu. Dalam penelitian dengan metode observasi alamiah, peneliti harus dapat mengidentifikasi fenomena yang relevan dan perlu diamati sehingga kesimpulan yang dibuat yang tidak dicemari oleh fenomena dari variable lain yang merusak data yang dikumpulkan. Dalam penelitian eksperimental, kendali semacam ini menjadi semakin penting karena inferensi mengenai hubungan sebab akibat pada gejala yang diteliti secara eksperimental tidak dapat disimpulkan dengan tepat apabila peneliti tidak mampu mengendalikan variable-variabel eksperimennya.
  • Logic, artinya setiap langkah yang diambil dalam melaksanakan penelitian dapat dijelaskan dan dapat diterima secara nalar apa yang menjadi alas an dalam memilih tindakan tersebut.

sumber: “Merancang Penelitian Bisnis dengan Alat Analisis SPSS & SmartPLS”, Dr Gendro Wijoyo, MM

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Metodologi Penelitian Bisnis

a-proses

 

Metodologi penelitian mengalami perkembangan sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Perkembangannya diawali keinginan manusia untuk mengetahui serta menyebarluaskan informasi, membantu kelancaran kehidupan sehari-hari, mempermudah proses kebijakan dan pengambilan keputusan, serta pengembangan ilmu pengetahuan. Sebenarnya ketika manusia menemui permasalahan dalam kehidupannya, secara alamiah turut membantu mengilhaminya melakukan penelitian. Munculnya permasalahan kehidupan tersebut pada gilirannya akan menggiring manusia untuk menemukan cara-cara mengatasi permasalahan kehidupannya sehingga menentukan proses penelitian berikutnya. Menurut Rummel (1958), metodologi penelitian mengalami perkembangan dalam empat tahap, yaitu: Pertama, periode trial and error, Kedua, authority and tradition, Ketiga, speculation and argumentation, Keempat, hypothesis and experimentation.

Pada periode trial and error. Ditandai dengan adanya ilmu pengetahuan yang bersifat embrio. Pada masa itu manusia tidak menggunakan dalil-dalil deduksi yang logis dalam menyusun ilmu pengetahuan sebagaimana yang diperlukan. Sebagai gantinyammerekan mencoba-coba dan terus mencoba sampai ditemukannya sesuatu yang dianggap memuaskan. Permasalahn tidak dibatasi secara jelas, proses kerja dan cara-cara pemecahannya masih dicari sambil berjalan, observasi yang dilakukan sangat sederhana dan kualitatif. Oleh karena itu kemajuannya hanya setapak demi setapak dan sulit dipastikan karena tidak dilakukan perencanaan secara baik.

Pada periode berikutnya, authority and tradition, ditandai adanya doktrin-doktrin yang harus diikuti dengan tertib tanpa kritik yang berasal dari kutipan pendapat pemimpin-pemimpin pada masa-masa sebelumnya. Apakah pendapat itu salah atau benar tidak menjadi persoalan, asal itu semua diucapkan oleh pemimpin dengan penuh semangat dan penuh keyakinan maka hal itu dianggap sebagai kebenaran yang mutlak. Sebagai contoh: Lahirnya dunia Copernicus pada tahun 953, sebuah teori yang menyatakan bahwa: Duniabukanlah sevagai pusat alam semesta, melainkna hanya suatu satelit dari matahari. Sekitar abad XVI kaum cerdik pandai di Eropa (terutama kaum Yesuit) tidak senang dengan ilmu keras teori dunia Copernicus yang menurut mereka tidak sesuai dengan alam alam logika dan pemikiran mereka. Menurut ajaran kaum Yesuit, dunia adalah pusat alam semesta, surga ada disekitarnya, dan bintang-bintang adalah sinar kerohanian. Namun demikian, dengan dipelopori oleh Galileo yang dilanjutkan Kepler, Drahe, Newton, La Place, dan para ahli perbintangan, akhirnya berhasil menembus keterbelengguan laju perkembangan ilmu pengetahuan yang selama ini tertahan. Mereka akhirnya percaya akan kebenaran dari teori Copernicus. Pada periode ini kehidupan dan kekuasaan para pemimpin sangat memegang peranan penting dalam menentukan roda kehidupan dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, pada periode speculation and argumentation muncul keraguan dari doktrin yang disampaikan oleh para tokoh penguasa. Melalui ketajaman dialektika dan ketangkasan bicara, orang mulai berkelompok mengadakan diskusi dan debat guna mencari kebenaran dengan argumentasi. Teori Darwin mengenai natural selection dan the survival of the fittest misalnya, mendapat serangan kritik yang sangat tajam dan berlarut, yang masing-masing pihak mengajukan argumentasi yang berbeda. Ilmu pengetahuan yang berkembang pada periode tersebut lebih mengutamakan kemampuan olah pikir dan ketangkasan bicara saja, tanpa ada dukungan pembuktian empiris maupun ajaran tertentu yang dapat dijadikan dasar pemikiran.

Dilandasi konsep berpikir bahwa semua peristiwa di alam semesta ini dikuasai oleh tata aturan dan pola tertentu, orang mulai berusaha keras mencari rangkaian tata pola tersebut untuk menerangkan suatu kejadian. Masa ini disebut dengan periode hypothesis dan experimentation. Diawali dengan ketajaman pikiran membuat dugaan atau hipotesis, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan fakta dari penelitian yang dilakukan, maka ditariklah kesimpulan umum dari dari permasalahan yang diajukan. Dengan proses perkembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan secara sistematis tersebut, maka dapatlah diperkirakan bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa ini kebenarannya dapat dipercaya.

Metodologi penelitian pada periode ini memegang peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Proses menemukan solusi dan penarikan kesimpulan dari permasalahan yang dihadapi telah dilakukan menurut cara-cara tertentu yang sesuai dengan kaidah keilmuan, sehingga ilmu pengetahuan yang lahir pada masa ini dapat dijadikan dasar dalam menuntun kehidupan. Ilmu pengetahuan yang berkembang semakin maju sejalan dengan kemampuan manusia dalam mempelajari sebab akibat peristiwa di alam semesta.

Dalam kenyataan dilingkup dunia kerja, sebuah organisasi bisnis dalam berbagai bentuknya, setiap saat dihadapkan pada masalah yang harus mereka pecahkan dengan membuat keputusan yang tepat. Untuk dapat melakukannya, kegiatan penelitian bisnis dapat dilakukan sebagai usaha sistematis dan terorganisir melakukan penyelidikan sehingga ditemukan jawabannya. Solusi akan diperoleh dari hasil penelitian ini, oleh karena itu penelitian bisnis merupakan aktivitas penting bagi manajemen yang akan membantu perusahaan memecahkan berbagai masalah yang dihadapi.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Jangan Pernah Takut Skripsi

jangan-takut-skripsi
SKRIPSI OH SKRIPSI…begitulah keluhan bebrapa mahasiswa jika dihadapkan dengan SKRIPSI. Tidak jarang bagi mahasiswa saat mengerjakan SKRIPSI banyak melalui kerikil kecil untuk meraih gelar sarjana, bahkan ada beberapa mahasiswa yang terkendala belum tuntas urusan akademisnya gara-gara SKRIPSI.

SKRIPSI sesungguhnya tidak terlalu penting, tapi tentu saja tidak boleh dianggap remeh. Di banyak perguruan tinggi SKRIPSI hanya maksimal 6 SKS atau hanya setara mata kuliah Pengantar Bisnis, tentunya hal ini menjadikan SKRIPSI tidak boleh menjadi beban melebihi mata kuliah tersebut. Jadi SKRIPSI itu MUDAH. SKRIPSI itu TIDAK SUSAH. SKRIPSI itu TIDAK BOLEH LAMA.

Yang membuat Skripsi lama itu adalah bingungnya mahasiswa mencari tema, pusing memilih judul, dan bingung mencari contoh. Yang harus Anda lakukan pertama adalah Cari Contoh Penelitian. Baik itu dari artikel-artikel, skripsi-skripsi ataupun jurnal-jurnal. Setelah diketemukan baru Anda langsung menghadap ke dosen pembimbing untuk konsultasi mengenai contohnya bahwa contoh tersebut ingin Anda buat. Tapi, tentunya Anda harus menguasai teorinya terlebih dahulu yang jelas, mapan dan argumentatif. Ada 2 manfaat dari cara tersebut yaitu Anda tidak mengalami kebingungan dalam menyusun skripsi dan potensi untuk ditolak oleh dosen pembimbing menjadi minimal, karenaAnda sudah dalam kesiapan.

Lebih mudanhnya akan dipaparkan tips untuk sukses melewati masa akhir studi.

1. Jangan pernah takut Skripsi. Jika ada bisikan-bisikan gaib dari senior bahwa skripsi itu susah, menakutkan, bikin frustasi, abaikan..!!
2. Jangan Percaya cerita senior tentang dosen pembimbing yang jelek-jelek atau mengerikan. “siap-siap saja lama skripsimu”. Jangan percayai itu. Itu Cuma gossip
3. Fokuslah pada SKRIPSI. Hindari kerja sampingan terlebih dahulu. Bermain game atau media social an yang tidak perlu. Tetaplah Fokus pada SKRIPSI.
4. Pilihlah tema yang memungkinkan Anda untuk bisa memperoleh data sendiri secara independen, agar Anda tidak terlalu tergantung dengan orang lain dalam mencari data penelitian. Missal seperti tema data yang sudah ada di internet (data sekunder). Hindari kuesioner yang respondenya tidak terkendali karena akan menghambat skripsi Anda.
5. Jika studi kasus, pastikan Anda memiliki akses ke objek penelitian. Karena jika tidak, maka waktu Anda akan habis hanya hanya untuk menunggu jawaban izin penelitian.
6. Ketika menyusun bab “Metode Penelitian” tulislah secara ringkas, detail, sistematis tahapan analisis data yang akan Anda lakukan terutama pada “Teknik Analisis Data” sehingga selanjutnya tidak dibingungkan setelah data diperoleh.
7. Tetaplah Fokus dan Kontinu…setelah memperoleh data, jangat istirahat dulu seperti pulang kampung. Karena jika istirahat Anda akan kehilangan mood dan semangatnya mulai berkurang. Jadi setelah data didapat harus langsung analisis dan langsung dibahas.
8. Gunakan bantuan bahasa yang memadai seperti EYD dan GLOSARIUM untuk memastikan bahwa kalimat yang Anda gunakan tepat. Jangan terlalu percaya pada dosen pembimbing, karena mereka belum tentu mengerti konteks kebahasaan.
Sudah Siap SKRIPSI ? 2 Bulan selesai ya ? tidak percaya? Silahkan dicoba..

Selamat ber-SKRIPSI

Dipublikasi di Analisis Data Kuantitatif di Malang, Pusat Analisis Data Statistik Malang | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

11 Jurus Penakluk Ujian Skripsi

11-jurus-penakluk-skripsi

Saat masuk tahapan “ Ujian Skripsi “, biasanya mahasiswa menghadapi ketakutan yang berlebihan, bahkan sampai menyebabkan efek samping bagi pelakunya, seperti mules, gugup, berkeringat, galau, pusing, bahkan baper #eeh

Sebenarnya kunci utamanya adalah JUJUR. Jujur dalam menyusun skripsi, kerjakan sendiri, jangan plagiat dan jangan skripsi pesanan. Tapi tenang dulu ya, saya punya Jurus Penakluk ujian skripsi yang akan membuat mahasiswa menjadi Sang Penakluk Ujian Skripsi #lebay

Ini Jurus Penakluk Ujian Skripsi nya :

1. Belajar dan Berdo’alah pada Tuhan, karena keputusan terbaik ada pada Dia. Dan kita hanya berusaha

2. Kuasai Skripsi Anda mulai dari isu, teori, metodologi, dan data serta hasilnya.

3. Jangan Grogi, mules, galau, pusing apalagi baper

4. Istirahat yang cukup pd malam hari dan jangan belajar sampai larut malam. Karena paginya membuat hayati lelah bang dan juga tidak fresh,,,hihihi

5. Kenali calon dosen penguji agar kita mengetahui keahlian dasar, hal ini penting kadangkala kalau dosen penguji tidak paham dengan skripsi Anda, maka beliau akan menanyakan hal-hal diluar skripsi, dan itu pasti terkait bidang ataukonsentrasi yang beliau kuasai

6. Bersikaplah santai dan tenang pada saat ujian

7. Hindari menjawab pertanyaan jika dosen penguji belum selesai dengan pertanyaannya. Ini akan membuatnya tersinggung dan Anda juga belum memahami betul maksud pertanyaanya.

8. Pastik an Anda paham arah pertanyaan dosen penguji. Jika tidak paham, konfirmasikan kepada beliau, tetapi jangan bilang “tolong diulang pertanyaan Bapak/ibu” itu tidak sopan.

9. Jawab seperlunya “seperlunya” saja dan gak muter-muter, apalagi muter-muter ruangan ujian…plis jangan. Jawaban harus to the point pada pertanyaan.

10. Jika penguji bilang ada konsep yang salah dengan skripsi Anda, konfirmasikan dahulu pemahaman Anda atas konsep tersebut kepada beliau. Jika mentok jangan bilang”ini disuruh pembimbing A:, karena hal itu justru akan memosisikan Anda sebagai pengadu Domba antar dosen. Tidak mau kan disebut Murid Durhaka..huhuw

11. Di akhir sesi ujian, jangan lupa bilang terima kasih dan bersalaman dengan pembimbing dan penguji… ciptakan kesan sopan dan tawadzu’ untuk mempengaruhi emosional penguji sebelum memberikan nilai akhir.

Pada akhirnya, siapkan mental sebaik-baiknya ketika hasil ujian diumumkan.
Ujian skripsi tidak lebih dari proses konfirmasi dari penyusunan skripsi yang sudah Anda lakukan.

Sekian semoga bermanfaat.

Dipublikasi di Analisis Data Kuantitatif di Malang, Analisis Data Statistik di Universitas Brawijaya, Analisis Data Statistik di Universitas Islam Malang, Analisis Data Statistik di Universitas Merdeka, Analisis Data Statistik di Universitas Negeri Malang, Analisis Data Statistik di Universitas UIN Maliki Malang, Analisis Data Statistik Jember, Analisis Data Statistik Kediri, Analisis Data Statistik Lumajang, Analisis Data Statistik Malang, Analisis Data Statistik Nganjuk, Analisis Data Statistik Pasuruan, Analisis Data Statistik Probolinggo, Analisis Data Statistik Sidoarjo, Analisis Data Statistik Singaraja, Analisis Data Statistik Situbondo, Analisis Data Statistik Surabaya, Analisis Data Statistik Tabanan, Analisis Data Statistik Terbaik ANOVA, Analisis Data Statistik Terbaik dengan Eviews, Analisis Data Statistik Terbaik dengan GeSCA, Analisis Data Statistik Terbaik dengan Minitab, Analisis Data Statistik Terbaik dengan SAS, Analisis Data Statistik Terbaik dengan SmartPLS, Analisis Data Statistik Terbaik dengan SPSS, Analisis Data Statistik Terbaik dengan STATA, Analisis Data Statistik Terbaik dengan WarPLS, Analisis Data Statistik Terbaik di Politeknik Negeri Malang (POLINEMA), Analisis Data Statistik Terbaik di Poltekes Kemenkes, Analisis Data Statistik Terbaik di Universitas Muhammadiyah Malang, Analisis Data Statistik Terbaik di Universitas Wisnuwardhana, Analisis Data Statistik Yogyakarta, Pelatihan SPSS Malang, Pusat Analisis Data Statistik Malang | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Tujuan Hipotesis

tujuan

 

 

Adanya hipotesis dalam suatu penelitian memberikan beberapa keuntungan bagi peneliti. Pertama, hipotesis memberikan arah bagi penelitian yang akan dilaksanakan. Sebagaimana telah disinggung di awal, penelitian yang dimulai tanpa hipotesis tidak menyediakan titik awal bagi peneliti untuk memulai penelitiannya; tidak ada cetak biru (blueprint) urutan langkah-langkah yang harus diikuti. Perumus an-hipotesis biasanya merupakan puncak dari upaya keras peneliti mendalami berbagai literature (teori) yang muncul sebagai proses alami dalam proses penelitian. Tanpa hipotesis, penelitian tidak memiliki focus dan kejelasan.

 

Keuntungan kedua, adanya hipotesis adalah mencegah peneliti untuk melakukan penelitian coba-coba (trial-and-error research), yaitu penelitian untung-untungan dengan harapan menemukan sesuatu yang penting. Perumusan hipotesis menuntut peneliti untuk memisahkan atau mengisolasi suatu wilayah penelitian secara khusus. Penelitian yang bersifat coba-coba hanya menghabiskan waktu dan tenaga. Perumusan hipotesis akan mencegah terjadinya pemborosan waktu dan tenaga.

 

Hipotesis juga membantu peneliti untuk menghindari berbagai variable pengganggu dan variable yang membingungkan. Karena hipotesis berfungsi memusatkan perhatian peneliti pada peryataan akurat yang dapat diuji, maka variable lainnya, apakah variable itu relevan ataukah itu relevan, tidak perlu diperhatikan. Missal, peneliti yang tertarik untuk mengetahui peran media dalam memberikan informasi kepada konsumen, maka peneliti harus merumuskan hipotesis yang secara khusus menyatakan media apa yang tercakup dalam penelitiannya, produk apa yang diteliti, siapa konsumen yang dituju dan seterusnya. Dengan kata lain, hipotesis berfungsi menyempitkan topic yang ingin diteliti. Melalui proses penyempitan topic penelitian ini, maka berbagai variable yang tidak penting dan variable pengganggu lainnya dapat dihilangkan atau dikontrol. Namun hal ini tidak berarti hoptesis menghilangkan kesalahan dalam penelitian karena kesalahan (error) dalam penelitian biasanya selalu ada.

 

Terakhir, hipotesis memungkinkan peneliti untuk melakukan kuantifikasi variable. Setiap konsep dan fenomena harus dapat dikuantifikasi selama peneliti memberikan definisi operasional terhadap konsep dan fenomena itu. Seluruh istilah yang digunakan dalam hipotesis harus memiliki definisi operasional. Missal, suatu penelitian memiliki hipotesis sebagai berikut, “Terdapat perbedaan signifikan frekuensi tanyangan iklan televise antara audien dengan frekuensi menonton televise tinggi dengan audien dengan frekuensi menonton rendah.” Dalam hal ini, peneliti membutuhkan definisi operasional mengenai frekuensi tayangan, frekuensi menonton tinggi dan rendah. Kata-kata yang tidak dapat dikuantifikasi tidak dapat dijadikan hipotesis.

 

Beberapa konsep dapat memiliki lebih dari satu definisi misalnya kata ‘kekerasan’. Keluhan kebanyakan peneliti bukan terletak pada kata kekerasan yang tidak dapat dikuantifikasi, tetapi lebih pada bahwa kata tersebut dapat memiliki lebih dari satu definisi operasional. Karena itu, sebelum seseorang dapat membandingkan hasil penelitian mengenai kekerasan media, ia perlu mempertimbangkan definisi kekerasan yang digunakan dalam setiap penelitian. Hasil penelitian yang berbeda bisa jadi dikarenakan definisi yang digunakan berbeda, bukan karena ada atau tidak adanya kekerasan.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Hipotesis Penelitian

hipotesis penelitian

 

Hipotesis Penelitian, adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian (oleh karena itu rumusan masalah biasanya disusun dalam bentuk kalimat tanya)

Dikatakan sementara karena jawaban baru berdasarkan pada teori yg relevan, belum berdasarkan fakta empirik hasil penelitian. à hipotesa baru berupa jawaban teoritik.

Tidak semua penelitian harus merumuskan hipotesa. Penelitian yg mempunyai hipotesa biasanya menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian yg tdk memerlukan hipotesa adalah:

  1. penelitian eksploratif,
  2. penelitian deskriptif dan
  3. penelitian kualitatif.

Dalam Hipotesis Penelitian terdapat Hipotesis Kerja & Hipotesis Nol. Hipotesis Kerja dinyatakan dalam kalimat positif; Hipotesis Nol dinyatakan dalam kalimat negatif. (hipotesis kerja disusun berdasarkan teori yg relevan, sedangkan hipotesis nol dirumuskan karena teori yg digunakan masih diragukan kebenarannya)

 

Pada kebanyakan penelitian,peneliti mengembangkan penelitiannya berdasarkan teori yang sudah ada, dan berdasarkan teori tersebut ia membuat perkiraan terhadap hasil penelitian yang akan diperolehnya.

 

Tukey (1986) mengatakan, hipotesis penelitian berfungsi mengemukakan pertanyaan: apakah kita memiliki bukti yang meyakinkan bahwa sesuatu tengah terjadi atau telah terjadi. Misalnya penelitian oleh King (2000) yang mengemukakan suatu hipotesis setelah ia mendalami berbagai teori mengenai fungsi humor bagi manusia. Hipotesis yang dikemukakannya menyatakan bahwa humor yang diucapkan pemain film di tengah berbagai adegan kekerasan pada film fiksi akan mengurangi ketegangan penonton terhadap film bersangkutan. Hasil eksperimen yang dilakukannya mendukung hipotesisnya tersebut.

 

Berdasarkan teori mengenai alasan moral (moral reasoning), Kremar dan Cooke (2001), mengemukakan hipotesis bahwa anak kecil memiliki kemungkinan lebih besar untuk menerima kekerasan sebagai hal yang benar dan sah jika pelaku tindak kekerasan tidak dihukum dibandingkan dengan dihukum. Hasil penelitian mereka menunjukkan adanya kesesuaian dengan hipotesis.

 

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Pertanyaan Penelitian

pertanyaan-penelitian

 

Peneliti dalam menyusun suatu rumusan masalah atau pertanyaan penelitian harus memerhatikan beberapa ketentuan agar mendapatkan rumusan masalah atau pertanyaan penelitian yang baik seperti.

  1. Rumusan masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang dikemukakan secara tegas (tidak menimbulkan multitafsir).
  2. Rumusan masalah harus dapat diuji.
  3. Rumusan masalah tidak boleh mengandung subjektivitas atau penilaian personal peneliti (personal value judgement).
  4. Rumusan masalah harus dinyatakan dalam struktur bahasa dan tata bahasa yang baik.

 

Pertanyaan penelitian sangat sering digunakan dalam penelitian untuk memecahkan suatu masalah atau dalam pelaksanaan penelitian mengenai suatu kebijakan di mana peneliti tidak bermaksud untuk melakukan uji statistic terhadap hasil temuan.  Misal, penelitian untuk mengetahui program televise yang disukai masyarakat, atau tingkat sirkulasi surat kabar, bisa jadi hanya berkeinginan untuk menemukan indikasi umum karenanya tidak perlu melakukan pengumpulan data untuk pengujian statistic. Jarang dilakukan orang atau bahkan belum pernah dilakukan. Studi jenis ini disebut dengan penelitian eksploratif karena peneliti belum mengetahui hasil penelitian seperti apa yang akan mereka peroleh. Menurut Tukey (1962), penelitian eksploratif lebih ditujukan untuk mencari indikasi data daripada mencari hubungan sebab akibat. Tujuannya untuk mengumpulkan data pendahuluan guna menyempurnakan pertanyaan penelitian, dan kemungkinan unutk merumuskan hipotesis.

 

Pertanyaan penelitian dapat dinyatakan sebagai pertanyaan sederhana mengenai hubungan antara dua atau lebih variable atau mengenai komponen suatu fenomena. Penelitian eksploratif memberikan jawaban terhadap pertanyaan: Apa yang tampaknya sedang terjadi? Misal, peneliti dapat bertanya,”Seperti apakah karakteristik juru kampanye lingkungan atau aktivis lingkungan?” atau “Apakah kantor berita memiliki cara yang berbeda-beda dalam meliput berita mengenai AIDS-HIV di berbagai wilayah di dunia?”.

 

Peneliti dapat pula mengajukan beberapa pertanyaan mengenai cara surat kabar harian memberitakan topic penelitian: (1) seberapa besar isu-isu kesehatan diberitakan dalam surat kabar harian dibandingkan dengan topic-topik berita lainnya? (2) seberapa banyak pemberitaan mengenai kesehatan memuat pula informasi mengenai organisasi kesehatan, pelayanan, dan pembiayaan jasa kesehatan? (3) apakah surat kabar nasional dan surat kabar local memberitakan isu kesehatan secara berbeda dibandingkan surat kabar lainnya?.

Dipublikasi di Analisis Data Kuantitatif di Malang, Analisis Data Statistik, Analisis Data Statistik Jember, Analisis Data Statistik Kediri, Analisis Data Statistik Lumajang, Analisis Data Statistik Makasar, Analisis Data Statistik Malang, Analisis Data Statistik Mataram, Analisis Data Statistik Medan, Analisis Data Statistik Nganjuk, Analisis Data Statistik Palembang, Analisis Data Statistik Pasuruan, Analisis Data Statistik Probolinggo, Analisis Data Statistik SEM, Analisis Data Statistik Sidoarjo, Analisis Data Statistik Situbondo, Analisis Data Statistik Terbaik di Universitas Muhammadiyah Malang, Pusat Analisis Data Statistik Malang | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Merumuskan Pertanyaan dan Hipotesis Penelitian

hipotesis-penelitian

 

Setelah mendapatkan topic penelitian, dan melakukan pendalaman terhadap literature terkait selanjutnya peneliti harus merumuskan masalah penelitian ke dalam hipotesis atau pertanyaan penelitian. Seorang peneliti tidak akan memulai penelitiannya tanpa adanya masalah, pertanyaan atau pernyataan yang akan diuji. Masalah dan pertanyaan penelitian merupakan titik awal seorang peneliti untuk mulai melaksanakan penelitiannya. Sebagaimana. Suatu perlombaan lari, setiap peserta harus memulai perlombaan dari garis start atau garis awal yang telah ditentukan terlebih dahulu. Pada penelitian garis awal itu adalah suatu pertanyaan penelitian atau suatu hipotesis yang hendak diujikan. Pada bagian ini, kita akan membahas prosedur untuk merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis serta langkah-langkah untuk menguji keduanya.

 

Suatu hipotesis dapat didefinisikan sebagai, “a formal statement regarding the relationship between variables and tested directly” (suatu pernyataan formal mengenai hubungan antara variable, dan diuji secara langsung). Dalam hal ini, perkiraan yang dibuat terhadap hubungan antara variable dapat benar atau salah. Sebaliknya, suatu pertanyaan penelitian atau rumusan masalah (problem statement) adalah, “ a formally stated question intended to provide indication about something it is not limited to investigating relationship between variables” Suatu pertanyaan yang dirumuskan secara formal dimaksudkan untuk memberikan indikasi mengenai sesuatu: pertanyaan tidak dibatasi untuk meneliti hubungan antara variable). Dengan kata lain, suatu rumusan masalah adalah pertanyaan yang diharapkan akan ditemukan jawabannya melalui penelitian yang dilakukan.

 

Bagi mereka yang baru belajar metode penelitian cenderung beranggapan bahwa bagian paling penting dalam melaksanakan penelitian adalah ketika penelitin terjun ke lapangan untuk mengumpulkan daya. Namun sebenarnya, merumuskan pertanyaan dan hipotesis penelitian menjadi bagian yang tak kalah penting dibandingkan bagian-bagian lainnya. Ada dua alasan mengapa peneliti perlu mengajukan pertanyaan atau hipotesis penelitian. Pertama, pertanyaan atau hipotesis penelitian berfungsi membatasi apa yang hendak diketahui. Hal ini memungkinkan peneliti untuk besikap selektif dalam menentukan informasi apa yang akan digunakannya, dan informasi apa yang harus dikesampingkannya. Kedua, pertanyaan atau hipotesis penelitian berfungsi mengarahkan peneliti pada metode penelitian yang hendak digunakan.

Dipublikasi di Analisis Data Kuantitatif di Malang, Analisis Data Statistik Banyuwangi, Analisis Data Statistik Blitar, Analisis Data Statistik Denpasar, Analisis Data Statistik di Universitas Brawijaya, Analisis Data Statistik di Universitas Islam Malang, Analisis Data Statistik di Universitas Negeri Malang, Analisis Data Statistik di Universitas UIN Maliki Malang, Analisis Data Statistik Jember, Analisis Data Statistik Jombang, Analisis Data Statistik Kediri, Analisis Data Statistik Lombok, Analisis Data Statistik Lumajang, Analisis Data Statistik Makasar, Analisis Data Statistik Malang, Analisis Data Statistik Mataram, Analisis Data Statistik Medan, Analisis Data Statistik Nganjuk, Analisis Data Statistik Probolinggo, Analisis Data Statistik Riset Operasi, Analisis Data Statistik Sidoarjo, Analisis Data Statistik Situbondo, Analisis Data Statistik Surabaya, Analisis Data Statistik Terbaik dengan R, Analisis Data Statistik Terbaik dengan SmartPLS, Analisis Data Statistik Terbaik dengan SPSS, Analisis Data Statistik Terbaik di Politeknik Negeri Malang (POLINEMA), Analisis Data Statistik Terbaik di Universitas Muhammadiyah Malang, Analisis Data Statistik Terbaik di Universitas Wisnuwardhana, Analisis Data Statistik Uji Intrumen Penelitian, Analisis Data Statitsik Uji Asumsi Klasik, Olah Data SPSS Malang, Pelatihan SPSS Malang, Pusat Analisis Data Statistik Malang | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar